RESIMEN MAHASISWA 802

Resimen Mahasiswa 802 Community
 
HomeRESIMEN MAHASISCalendarGalleryFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 Pedakian SOlo Welirang-Arjuno di Bulan April 2008

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
LAPENDOS-LelakiPenuhDosa



Male
Number of posts : 6
Age : 33
Location : Suroboyo
Job/hobbies : 'Gunung-Hutan' Activity
Registration date : 2008-11-30

PostSubject: Pedakian SOlo Welirang-Arjuno di Bulan April 2008   Fri Dec 05, 2008 4:57 am

Pedakian SOlo Welirang-Arjuno di Bulan April 2008

Overview
Ku akui jiwaku masil labil. Kepribadianku masih terombang-ambing oleh setiap deraan peristiwa. Apalagiperistiwa terkait dengan wanita. Ah, aku tak berdaya untuk melawan dan lari dari kenyataan adalah jalan pintas, cara terbaik untuk re-charge mental bajaku agar segera kembali. Peristiwa yang membuat spiritualku kedodoran dan compang-camping serta berantakan adalah pernikahan wanita yang aku agungkan di muka bumi ini, ----- (hanya member yang tahu e e e)!

Akhir April itu pikiranku pusing tujuh keliling memikirkan cara terbaik untuk lari dari sebuah peristiwa yang akan mengguncang sisi spiritualku jika aku memaksakan diri untuk menghadirinya. Hari-hariku terus diisi dengan pemikiran mengenai berbagai alternatif dan implikasi yang muncul dari masing-masing alternatif yang tersembul dari hasil perenungan selama berhari-hari itu. Ah, akhirnya ide terbaik lari dari kenyataan adalah mendaki gunung. Segera saja aku kontak kawan Banyuwangi yang memang sudah berjanji untuk mendaki di akhir bulan ini. Namun sungguh mengecewakan, dengan alasan yang tidak masuk akal dalam analisisku kawan dari Banyuwangi itu tidak bisa menemani mendaki gunung. Kucoba kontak kawan lain, tetapi hasilnya nihil. Jadilah aku mendaki solo! Menyedihkan. Ihiks.

Awal mula
Sore itu, di waktu Ashar aku telah ada di pos perijinan pendakian Welirang-Arjuno dari jalur Tretes. Setelah selesai semua proses administrasi ku peroleh informasi bahwa saat ini tidak ada lagi pendaki di atas sana. Kelompok pendaki terakhir telah turun dua hari yang lalu. Ah, apes sungguh nasibku. Aku benar-benar harus sendirian di gunung yang terkenal dengan keangkeran dan alam yang ganas ini. Tetapi aku tidak peduli, bagiku ini masih kalah menyeramkan daripada aku harus menjadi saksi peristiwa yang akan menghancurkan kesalehanku dan berakhirlah aku menjadi manusia baik.

Pos Perijinan menuju Kop-kopan
Perjalanan ini sungguh sendu. Berada di sebuah sore yang pilu. Tapi tidak ada yang mengerti bahwa aku berada dalam kesedihan mendalam. Terhitung 2 orang yang memperingatkan aku untuk berpikir dua kali melanjutkan pendakian solo ini. Pertama di Pet Bocor, Pemilik Warung di situ bahkan menyangka bahwa aku sedang gila dari tatapan matanya terlihat keraguannya terhadap kenormalan psikisku. Kedua, di tengah perjalanan menuju Kop-kopan aku bertemu dengan penambang belerang terakhir, seorang tua yang mencoba untuk mengganyang keteguhanku bahwa mustahil mendaki sendiri di gunung ini. Aku tidak peduli. Saran 2 orang itu kusambut dengan senyuman yang menandakan bahwa sisi spiritualku benar-benar telah teruji dan bahwa aku akan pulang dengan sehat dan selamat serta sesuai dengan jadwal yang telah kutentukan.

Menjelang petang aku telah sampai di Kop-kopan. Sebuah tempat kesaksian diri dimana hanya ada satu gubuk penambang belerang saja.

Malam ini aku tidur di gubuk bersama kutu dan kecoa yang tidak sempat ku hitung jumlahnya. Menyusup ke dalam sleeping bag-ku. Bersembunyi di ketiak dan selangkanganku. Aku tidak peduli yang penting mereka mau menemaniku dan tidak mengusirku dari gubuk ini. Aku pun terlelap meski seringkali tiba-tiba terbangun.

Pukul 11 malam ku lihat seberkas cahaya melintasi pintu depan gubuk yang hanya ditutupi kain lusuh dan berdebu. Aku diam saja karena ku dengar sayup-sayup ada suara seseorang kemudian menjadi beberapa orang yang datang di Kop-kopan ini. Tidak beberapa lama kemudian masuk satu orang ke dalam gubuk. Aneh, orang itu tidak melihatku yang lagi terbaring di sudut ujung gubuk ini. Bergegas orang tadi keluar dan memberitahu teman-temannya bahwa mereka bisa tidur di gubukan ini.

Begitu mereka masuk lagi aku pun bangkit dari berbaringku dan alangkah kagetnya mereka dan sempat terdesis dari mulut salah satu dan seluruh hati mereka "Setan!!!!!!!!!".

"Halo, rombongan dari mana? Berapa orang? Star pukul berapa dari pos perijinan?", tanyaku.

Setelah berbincang beberapa lama ternyata mereka adalah anak SMA yang baru saja selesai melaksanakan ujian nasional dan mencoba me-refresh-kan diri dengan mendaki gunung. Untuk mengkondisikan situasi yang bagi mereka kurang bersahabat ini-dingin, gelap, tak ada tenda dan obat dingin memadai-ku bercerita mengenai beberapa hal.

Kami pun mulai akrab sebelum semua terlelap dalam puncak mimpi masing-masing. Sementara aku harus bekerja keras agar peristiwa yang besok akan terjadi jauh di bawah sana-Surabaya-tidak terus mengusik malamku.

Lupa untuk sejenak
"Iya mas, kemarin di bawah diberitahu kalau ada anak mendaki sendirian. Bahkan, di Pet Bocor, bapak Penjaga Warung bilang kalau ada orang stres yang mendaki e e e", jelas Hendy.

Hari ini begitu riuh dan semarak. Kesepian yang kubayangkan berubah 180 derajat. Anak-anak SMA ini begitu semangat dan kenekatan mereka membuatku harus benar-benar menjadi orang tua untuk selalu mejelaskan berbagai hal mengenai manajemen pendakian. Aku tidak bosan-bosan berbagi pengalaman karena aku yakin beberapa dari mereka akan menjadi pendaki sejati sehingga dengan sharing pengalaman di perjalanan ini akan membuat mereka cepat mencapai predikat itu.

Kenapa aku memberikan istilah pendaki sejati, bukannya dengan istilah pecinta alam sejati. Hal ini dikarenakan sulit ini menjadi pecinta alam sejati. Saat ini jarang bisa ku temui pecinta alam sejati dalam masa-masa pendakianku. Yang ada adalah pendaki sejati dengan ragam sensasi, tantangan dan hal lain yang mereka ingin peroleh. Mungkin pendapatku ini terlalu naif, idealis bahkan nista bagi orang-orang tertentu. Tetapi memang inilah yang terjadi bahwa pecinta alam sejati itu tidak ada bahkan kalaulah memang ada berarti telah mati. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Sore hari kami telah sampai di area puncak. Kami memutuskan bermalam di area ini. Esok sebelum matahari terbit kami baru ke puncak menyaksikan sunrise Welirang.

Malam ini sungguh menyedihkanku. Beberapa dari 9 anak SMA ini menggigil kedinginan. Kondisi ini sungguh menyedihkan aku. Berkemah di area puncak memang beresiko jika tidak membawa perlengkapan anti dingin. Namun ini mungkin pelajaran berharga bagi kawan-kawan SMA ini agar di pendakian berikutnya lebih perhitungan lagi.

Pagi menjelang dan kami telah setia menunggu sunrise di puncak ini sambil tersenyum senang bahwa kami bisa sampai dalam keadaan sehat. Setelah turun aku dan kawan-kawan SMA Sidoarjo 3 ini pun berpisah di gubukan Penambang Belerang yang merupakan jalur pertemuan Welirang-Arjuno. Kawan-kawan Sidoarjo ini kembali pulang dan aku melanjutkan perjalan menuju puncak Arjuno.

Kembali pada kesunyian
Siang ini kaki begitu berat. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ini kusadari karena aku tengah melewati sebuah lembah yang sangat ditakuti para pendaki, pemburu dan penambang belerang. Namanya Lembah Kidang. Sendirian dengan langkah terseok-seok aku melintasi area ini. Terbayang peristiwa pertengahan tahun 2006, seorang kawan dari Cirebon tiba-tiba menghilang. Setelah beberapa waktu dalam pencarian, keputusasaan dan pasrah pada apa yang akan terjadi, baru kemudian kawan ini muncul. Semua benar-benar di luar fungsi logika. Jalur yang begitu sangat terbuka namun tidak nampak seorang pun dan suaraku yang parau namun nyaring berkali-kali meneriakkan nama kawan ini tetap saja hasilnya nihil. Padahal apa yang aku lakukan ini juga dilakukan kawan yang hilang ini. Ternyata kami berada di dua alam yang berbeda.

Pukul 4 sore aku telah sampai di area puncak gunung Arjuno. Setelah mendirikan tenda tepat di samping replika kuburan aku mencoba mengabadikan sore yang indah ini dengan kamera Canon PowerShot A460. Sunset ini begitu istimewa. Cahaya terang mentari sore dikombinasikan dengan variasi warna dan bentuk awan serta birunya langit membuatku betah dengan suasana ini. Di ujung sana kepulan asap Welirang benar-benar sajian pemandangan yang sempurna. Maha Suci Allah dengan segala keindahan-Nya.

Petang pun tiba dan aku masih saja menikmati sajian ini untuk kemudian beranjak masuk ke dalam tenda untuk mendengarkan suara angin, suara gesekan dedaunan dan ranting dan suara-suara yang menyerupai jejak langkah kaki. Hi serem, tapi aku ga kapok!!!

Inilah rumahku
Sebelum matahari terbit aku telah cangkrukan di puncak Arjuno. Kesendirian ini begitu memerdekakan aku untuk mengabadikan suasana. Sampai-sampai-kemungkinan-aku mengabaikan beberapa hal yang mungkin bisa mengganggu eksistensi yang lain. Di salah satu foto itu terdapat cahaya terang yang melintas tepat di atas kepalaku. Untung saja ini baru ku ketahui setelah aku mentransfer data ke komputer. Sepurane sing katah Mbah, menawi enten lupute putune Mbah ngaturake agunge pangaksami!

Tidak bisa ku pungkiri, inilah tempat yang selalu kurindukan. Saat bibir dan lidah berpadu senandung rindu. Pikiran menjadi damai dan tenang. Luruhlah segala peristiwa termasuk peristiwa pernikahanmu, ----- (hanya member yang tahu e e e)!

Rumahku ini telah merevolusi, mereformasi dan mentransformasi jiwa dan ragaku. Resmilah aku menjadi pendaki sejati.

Ku buka HP dan ku kirimkan pesan ke beberapa teman untuk memberitahukan bahwa aku lagi di puncak gunung Arjuno dalam kondisi hidup-hidup e e e!

Menuju Puncak Welirang

Puncak Welirang

Puncak Arjuno

Menusuk Matahari
Back to top Go down
View user profile http://pendakirewel.blogspot.com
 
Pedakian SOlo Welirang-Arjuno di Bulan April 2008
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Gulu Walk 2008 - Jerusalem
» Don't blame April's parents for letting her play outside By JAN MOIR
» JOAS Special Edition 2008
» Naomi Campbell Displays Her Amazing Bathing Suit Body for 'Shape' April 2014
» 20th October - Shiloh: Bloody April

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
RESIMEN MAHASISWA 802 :: Hobby :: Jelajah-
Jump to: